(Bagian 8)
Oleh:Irwansyah Nasution.
Dalam dunia diplomasi, keahlian komunikasi jadi nilai tambah penting dari setumpuk data di meja pertemuan.
Diplomasi itu ibarat main catur pakai aturan tak tertulis menang bisa jadi pahlawan kalah bisa jadi pecundang .
Ada yang menarik untuk dilihat dan ditunggu publik usai pernyataan ketua komite pemekaran propinsi Sumatera Pantai Timur Muslim Simbolon ,akan menyampaikan proposal kajian ke pada Gubernur Sumatera Utara Boby Nasution dalam minggu depan ke publik.
Lalu apa yang perlu disimak secara serius jelang pertemuan itu ? tentang hasilkah atau cara ?.
Setumpuk data di meja perundingan memang di perlukan namun data hanyalah setumpuk kata kata yang di bukukan tertulis kadang tak terlalu menarik untuk di simak dalam waktu yang pendek di pertemuan diplomasi malah bisa tidak singkron dengan kata-kata dalam negosiasi.
Satu kata meleset bisa bikin krisis. Diplomat ulung tahu kapan harus tegas, kapan harus merangkul, dan kapan diam jadi senjata paling tajam.menguasai seni komunikasi ambil contoh misalnya bagaimana negosiator dapat berkomunikasi “menyampaikan tidak tanpa bilang tidak”.dalam satu tema bahasan dan inilah menariknya untuk diikuti jelang pertemuan negosiasi antara Boby Nasution dan Muslim Simbolon yang kedua tokoh ini punya latar belakang Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara dalam arena diplomasi pemekaran Sumatera Pantai Timur walau keduanya di besarkan di kawasan pesisir pantai timur Sumatera Utara.
Mengapa analisa ini perlu di cermati dari sudut Pemahaman budaya karena ia merupakan bagian penting dalam keberhasilan diplomasi dan juga kegagalan. Jabat tangan, kontak mata, bahkan urutan bicara beda makna di tiap daerah yang menjadi take for granted sudah pemberian dari sononye kata orang betawi ,salah langkah kecil bisa dianggap penghinaan. warna lintas budaya bagian cermin tak boleh di sepelekan untuk keberhasilan diplomasi yang lahir dari salah paham.sudut pandang budaya negosiator.
Manajemen krisis di meja perundingan, bisa berubah dalam 5 menit. bacaan gerak tubuh, intonasi, dan sinyal politik jadi penentu kesepakatan dari maksud pertemuan itu.. Bagaimana tenang di bawah tekanan dalam pertemuan itu nantinya dalam sudut pandang diplomasi budaya dan latar belakang dua aktor penting ini.
Tak perlu meragukan ke handalan tokoh sekaliber Muslim Simbolon yang sudah terlatih berkata kata di rimba persilatan diplomasi sekelas Sumatera Utara tapi Berhadapan dengan tipikal Boby Nasution berlatar belakang Tapanuli Selatan tidaklah hal mudah di yakini dalam kapasitasnya sebagai Gubernur muda yang energik dan prospektif dalam melihat persoalan pemekaran Propinsi Pantai Timur Sumatera ini telah terlihat publik bagaimana Boby Nasution melakukan gerakan satu arah dalam mengemukakan pendapatnya di depan Baharudin Siagian selaku Bupati Batu Bara yang juga ketua dewan pembina komite pemekaran dan Mendagri Tito Karnavian sebagai sinyal khas Tapanuli Selatan.
Harapan penuh publik Sumatera Pantai Timur pada delegator pemekaran tentu saja optimis dan membawa keberhasilan , diplomasi tanpa keahlian itu seperti operasi jantung yang mendebarkan bagi orang awam: walau niatnya baik, hasilnya bisa fatal jika hal-hal kecil terlewatkan.Selamat bertarung di arena penentuan.
Penulis Direktur LKPI
Lembaga Kajian Pembangunan Indonesia.













