PT. Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) didirikan pada 6 Januari 1976 dan beroperasi pada Tahun 1982 pada saat Indonesia masih berada pada rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Pembangunan PT. INALUM itu sendiri banyak memberikan arti bagi negara kita ketika itu. Pertama, PT. INALUM merupakan perusahaan aluminium pertama di Indonesia yang berskala besar, Kedua PT. INALUM melambangkan kedigdayaan teknologi, dan Ketiga, PT. INALUM merupakan cikal bakal kemajuan ekonomi Indonesia di bidang industri.
Pada saat pendiriannya awal Tahun 1976, kondisi Negara Indonesia di segala bidang masih terbelakang. Berkenaan hal tersebut dengan hadirnya proyek pembangunan PT. INALUM yang disponsori konsorsium Jepang, membuat aspek kehidupan masyarakat di sekitar proyek baik dari sisi sosial maupun ekonomi menjadi bergairah. Harapan baru akan perubahan kehidupan yang lebih baik menjadi dambaan masyarakat manakala PT. INALUM telah berjalan, anak anak mereka dapat diterima bekerja sehingga mampu mendongkrak ekonomi keluarga.
Berdasarkan fakta empiris yang terjadi, dapat dikabarkan bahwa proses pembangunan PT. INALUM yang berjudul proyek Asahan yang terdiri atas pembangunan PLTA Siguragura di Paritohan dan Pabrik Peleburan (Smelter Plant) di Kuala Tanjung sangat pelik dan tidak mudah baik ditinjau dari aspek eksternal maupun internal. Dari aspek eksternal, pada awal pembangunan proyek PT. INALUM tersebut banyak mendapat penolakan dari warga sehingga memperlambat proses ganti rugi tanah. Kemudian masalah pengurusan perizinan juga kerap mengalami kendala ditambah lagi alotnya perundingan antara Konsorsium Jepang dan Pemerintah Indonesia dalam rangka penetapan besaran saham dan penetapan master agreement.
Secara Internal, pembangunan PT. INALUM dikatakan tidak mudah karena menyangkut besarnya biaya dan penerapan teknologi. Sebagaimana diketahui, bahwa pembangunan PT. INALUM khususnya pembangunan PLTA Siguragura telah dirintis sejak Tahun 1900. Beberapa Negara besar seperti Belanda, Uni Soviet, dan Amerika Serikat telah melakukan studi kelayakan dan penelitian untuk memulai rencana pembangunan PLTA Siguragura namun tidak berhasil. Barulah ketika Pemerintah Jepang melaksanakan riset di areal sungai Asahan di Siguragura pada Tahun 1972, impian membangun PLTA Siguragura dan Smelter Plant di Kuala Tanjung dapat diwujudnyatakan. Tepat pada Tahun 1975 persiapan pelaksanaan proyek Asahan yang akan membangun PLTA Siguragura dan Smelter Plant di Kuala Tanjung dimatangkan dan difinalkan dalam suatu perjanjian induk antara 12 perusahaan penanaman modal Jepang dan Pemerintah Indonesia. Sesuai perjanjian induk (master agreement), Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd. (NAA) dipercaya untuk mengerjakan proyek Asahan dan peletakan batu pertama pembangunan proyek Asahan dimulai tepatnya Tanggal 6 Januari 1976.
Dari aspek biaya, untuk membangun PLTA Siguragura dan Smelter Plant di Kuala Tanjung, Konsorsium Jepang mengeluarkan dana yang sangat besar yaitu mencapai 4,5 juta dollar AS. Sedangkan menyangkut penerapan teknologi, Konsorsium dan Pemerintah Jepang terpaksa harus menunjukkan kehebatannya di bidang penguasaan teknologi mutahir agar mereka tidak gagal seperti negara negara maju lainnya untuk membangun PLTA Siguragura dan Smelter Plant yang akan memanfaatkan debit air Danau Toba sebagai penggeraknya.
Keberhasilan Konsorsium dan Pemerintah Jepang membangun PLTA Siguragura banyak mendapatkan acungan jempol dari berbagai negara maju ketika itu. Betapa tidak, dari sekian banyak negara maju yang merencanakan ingin membangun PLTA Siguragura hanya Konsorsium dan Pemerintah Jepang lah yang dengan kedigdayaan teknologinya mampu mewujudkan Pembanguan PLTA Siguragura sebagai mega proyek di bidang ketenagalistrikan yang akan menjadi sumber energi panas untuk mengoperasikan 510 tungku yang ada di Pabrik Peleburan (Smelter Plant) Aluminium di Kuala Tanjung. Dengan keberhasilan membangun PLTA Siguragura, maka reputasi Jepang dalam hal penguasaan teknologi canggih di mata dunia sangat diakui pada saat itu. Artinya, keberhasilan membangun PT. INALUM merupakan kepuasan dan kebanggaan tidak hanya bagi Pemerintah Jepang tetapi juga bagi Pemerintah Indonesia.
Terkait dengan pembangunan PLTA Siguragura dapat secara singkat digambarkan bahwa pengerjaannya memang benar benar membutuhkan keahlian, kecermatan, dan penerapan teknologi tingkat tinggi. Mungkin ketika itu kita tidak pernah membayangkan perut bumi dipegunungan Siguragura yang diatasnya mengalir Sungai Asahan dapat dibor dan didalamnya dibuat kantor serta dibangun turbin dikedalaman 200 meter. Tapi semua ketidakmungkinan itu telah dijawab oleh Jepang dan kini bangunan PLTA Siguragura sangat menakjubkan bagi kita yang melihatnya.
Setelah beroperasi, PT. INALUM dikendalikan oleh Konsorsium Jepang yang menguasai saham PT. INALUM sebesar 70%. Dengan status kepemilikan saham sebesar 70%, maka status PT. INALUM adalah Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA). Banyak hal yang dapat dicatat selama PT. INALUM berstatus sebagai PMA yaitu perusahaan berjalan secara profesional dengan tetap berpegang teguh pada prinsip the right man on the right place, akuntabilitas, kecermatan dan kehatihatian, serta objektifitas. Selanjutnya dalam hal kepedulian di bidang sosial kemasyarakatan dan lingkungan, PT. INALUM pada saat dipimpin oleh Konsorsium Jepang juga diakui telah banyak memberikan dan menyalurkan bantuan bantuanya kepada berbagai pihak yang membutuhkan. Bantuan bantuan tersebut diberikan PT. INALUM secara berkesinambungan dalam berbagai aspek kehidupan tanpa pernah terhenti. Faktalah yang menjadi saksi betapa besarnya bantuan yang telah diberikan oleh PT. INALUM kepada Masyarakat, Bangsa, dan Negara ini.
Seiring dengan bergulirnya waktu, pada 9 Desember 2013, kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Konsorsium Jepang dalam pengelolaan PT. INALUM telah berakhir. Presiden Susilo Bambang Yudhyono tidak berkenan melanjutkan kerjasama pengelolaan PT. INALUM lagi dengan Konsorsium Jepang sehingga dengan demikian PT. INALUM kembali ke pangkuan ibu pertiwi dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dengan telah berubah dari status PMA menjadi BUMN pada 19 Desember 2013, 100% PT. INALUM dikendalikan oleh putera puteri terbaik Indonesia. Di bawah kendali putera puteri Indonesia, PT. INALUM tetap berati bagi masyarakat. Berbagai inovasi, diversifikasi, dan alih teknologi pun terus dilakukan. Hal ini demi.mewujudkan visi PT. INALUM menjadi Perusahaan Aluminium yang berkelas dan disegani dunia. Demikian juga menyangkut bantuan untuk masyarakat baik yang melalui CSR maupun program program lainnya tetap berjalan seperti yang diharapkan.
Itulah sekilas deskripsi tentang PT. INALUM telah penulis hadirkan sebagai bentuk Refleksi HUT ke-48 PT. INALUM.
Dirgahayu PT. INALUM bakti dan kepedulianmu masih sangat dinantikan oleh Masyarakat, Bangsa, dan Negara Indonesia.







