TABLOIAD POLMAS POLDASU

PUASA DAN PERUT KERONCONGAN Oleh:Irwansyah Nasution Berkali kali sudah diingatkan Ustadz di mimbar agama baik pengajian di Mesjid maupun Mushalla selama Ramadhan memasuki pertengahan puasa ini.” Berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga”.cetus ustad dalam sebuah ceramah subuh di mesjid tempat saya tinggal. Memang saat berpuasa kebanyakan orang lebih memilih ritual puasa belaka tanpa mengambil hikmah mendalam kecuali sekedar menahan lapar dan haus sehingga puasa tampak lebih menjalankan rutinitas tahunan sebagian orang kebanyakan,walau kadang kita pun tak bisa memvonis kualitas puasa orang lain di mata tuhan karena yang dapat menilai kualitas seseorang akan pahala puasa seseorang muslim hanyalah Allah SWT. Puasa yang didirikan berdasarkan iman dan mengharapkan pahala dari Allah sebuah metode puasa yang dapat dijadikan jalan acuan puasa yang berkualitas seperti yang di Disabdakan Nabi Muhammad S.A.W (Muttafaqun Alaihi). Mengapa demikian?. Karena pusat pikiran dan hati masih sering bercampur dengan kebiasaan saat tidak berpuasa seperti di bulan lainnya,percampuran inilah kadang sulit dihindarkan terutama kebiasaan yang buruk mencela,berdusta dan lainnya tanpa disadari. Jika Imam Al Ghazali membagi tiga hal standar orang berpuasa ,sebenarnya adalah upaya mempermudah kita memahami pemetaan kualitas orang berpuasa yakni puasanya orang awam,puasa orang khusus dan terakhir puasa orang super khusus.Tiga tingkatan ini sering didapati saat orang mengerjakan puasa ,Jika ada orang puasa sekedar menahan perut keroncongan lalu tiba saat berbuka puasa tanpa mengerjakan lainnya inilah termasuk puasa orang awam tingkat pertama.Adapun orang sengaja puasa dengan memusatkan pikiran dan hati tidak terjebak dengan urusan dunia selain menjaga kesucian puasa dan hubungan dengan Allah semata inilah level kedua dan ketiga yang dimaksud Imam Al-Ghazali itu. Tentu kita memaklumi tiga standar orang berpuasa itu dapat di sebut prestasi jika dikaitkan dengan berlomba lomba mengerjakan kebaikan ,Kemampuan dalam upaya mengerjakan puasa di masing masing level memang tidak sama pada tiap orang semua tergantung upaya keras menemukan jalan yang terbaik dari tiga standar itu.Tuhanpun tidak memaksakan seseorang dari hasil usahanya kecuali sesuai dengan kesanggupannya bukankah begitu ?. Jadi puasa dan perut keroncong hanyalah batasan terendah dari makna puasa karena ia lebih baik dari pada tidak mengerjakan puasa sama sekali. Seri Dakwah Bulan Ramdhan. Semoga bermanfaat .

PUASA DAN PERUT KERONCONGAN Berkali kali sudah diingatkan Ustadz di mimbar agama

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.