Oleh Tuppal Siburian, S.T.
Di tengah arus modernisasi dan budaya yang mengutamakan kepentingan pribadi, nilai luhur warisan leluhur sering kali tersisih. Padahal, kearifan lokal menyimpan panduan moral tentang hakikat manusia. Salah satunya adalah poda dalam tradisi Batak rangkaian nasihat hidup yang menjadi penuntun membangun relasi yang sehat, bermartabat, dan damai.
Di antara ajaran poda, terdapat pesan‑pesan utama yang sangat relevan hingga kini: mengasihi sesama, menjunjung integritas dengan menghormati hak orang lain, dan bijak memilih pergaulan. Ketiganya menjadi fondasi kokoh menjaga harmoni sosial di tengah kehidupan modern yang kompleks dan penuh tantangan.
Empati sebagai Dasar Kemanusiaan
Prinsip “Haholongi ma donganmu jolma dos tu dirim” berarti: cintailah sesama seperti mencintai diri sendiri. Nilai ini bersifat universal dan dikenal sebagai Kaidah Emas. Ia menuntut empati nyata dalam tindakan sehari‑hari, bukan sekadar ucapan moral.
Di ruang media sosial yang kerap dipenuhi ujaran kebencian, ajaran ini mengingatkan bahwa di balik setiap akun ada manusia dengan perasaan dan harga diri yang sama. Empati membuat kita lebih berhati‑hati bertutur dan lebih terbuka terhadap perbedaan. Saat empati mengakar, benih perselisihan diredam, dan solidaritas sosial dapat tumbuh subur.
Integritas dan Penghormatan terhadap Hak Orang Lain
Ada poda yang berbunyi “Unang olo mangkurhuri tano ni jolma” secara harfiah: jangan menggeser batas tanah orang lain tanpa hak. Bagi masyarakat Batak, tanah adalah identitas sekaligus lambang kehormatan; menggeser batasnya dianggap pelanggaran serius yang merusak tatanan sosial.
Secara filosofis, ini adalah ajaran integritas: jangan menuntut atau mengambil apa yang bukan hak kita. Nilai ini sangat relevan di masa kini mulai dari menghargai hak cipta, menjaga privasi, hingga menolak korupsi dan segala bentuk kecurangan. Keserakahan hanya akan meruntuhkan kepercayaan; penghormatan atas hak sesama adalah syarat mutlak keadilan dan ketertiban.
Selektivitas dalam Pergaulan
Memilih teman adalah langkah penting membentuk kualitas diri. Tradisi poda memberikan petunjuk tegas mengenai karakter yang perlu diwaspadai:
✓ Terhadap ketidakjujuran: Ungkapan “Unang dongani jolma kariting” sering disalahartikan, padahal makna sesungguhnya adalah nasihat agar tidak bergaul akrab dengan jolma na mardua roha orang bermuka dua dan tidak jujur.
✓Terhadap egoisme: Kita juga dinasihati agar tidak menjadikan teman seperjalanan sosok yang digambarkan sebagai “Jolma sibalga ulu, rukkung na jeppek”. Secara kiasan, ini merujuk pada pribadi yang egois, keras kepala, dan berpikiran sempit; sulit diajak bekerja sama serta tak peduli kepentingan bersama.
✓ Terhadap perkataan buruk: Ada pula pesan agar berhati‑hati berelasi dengan “Jolma ngingina hira ngingi ni dihur” sosok yang tutur katanya tajam, kasar, atau mudah memicu perselisihan layaknya bunyi tikus yang mengganggu ketenangan di sekelilingnya.
Teman dan mitra sangat berpengaruh membentuk watak kita. Memilih berelasi dengan orang yang jujur, berpikiran luas, dan beretika bukan berarti tertutup, melainkan wujud kebijaksanaan menjaga hati nurani agar tak terseret perilaku yang bertentangan dengan kebenaran.
Menemukan Kembali Kebijaksanaan Leluhur
Ajaran‑ajaran itu membuktikan bahwa nenek moyang kita paham kualitas hidup ditentukan oleh cara kita mengasihi sesama, menghargai hak milik, dan memilih teman seperjalanan. Menghidupkan kembali nilai‑nilai ini bukan langkah mundur, melainkan upaya menghadirkan kemajuan yang berakar pada kemanusiaan sejati.
Masyarakat modern butuh keteguhan moral agar kemajuan teknologi membawa manfaat, bukan kerusakan. Peradaban besar diukur dari seberapa kuat nilai kemanusiaan yang dihayati warganya. Ajaran poda mengingatkan: keharmonisan harus terus dibangun lewat kasih, kejujuran, dan kebijaksanaan menjalani hidup.
Penulis Adalah Wartawan Tabloid Polmas Poldasu yang peduli pelestarian budaya, serta aktif merenungkan nilai kearifan lokal sebagai landasan etika dan integritas demi masyarakat yang beradab.













