TAPUT – TB. POLMAS POLDASU
Pemilik sekaligus Pendiri Yayasan Bisukma, Dr. Erikson Sianipar, M.M, yang juga menjabat Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tapanuli Utara, menegaskan pentingnya peran generasi muda desa dalam menjaga masa depan pertanian dan ketahanan pangan nasional, Tarutung, Jumat, (19/09/2025).
Menurutnya, tinggal di desa bukanlah hambatan untuk berkembang. Justru, desa menyimpan potensi besar jika anak muda mampu memanfaatkan peluang yang ada. “Tinggal di desa itu bukan berarti terbelakang. Dengan kerja keras, semangat belajar, dan keberanian menggunakan teknologi, anak muda desa bisa menjadi motor penggerak perubahan. Program pelatihan yang ada jangan hanya dilihat sebagai formalitas, tetapi sebagai kesempatan emas untuk membangun keterampilan dan memperluas jaringan,” kata Dr. Erikson dalam pesannya.
Dr. Erikson menyoroti fakta yang mengkhawatirkan terkait krisis regenerasi petani. Data Sensus Pertanian BPS 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen petani Indonesia berusia di atas 43 tahun. Sementara, hanya 2,14 persen generasi Z yang memilih terjun ke sektor pertanian. Kondisi ini, menurutnya, harus menjadi perhatian serius karena menyangkut ketahanan pangan bangsa.
“FAO sudah mengingatkan, dunia bisa menghadapi krisis pangan global jika regenerasi petani gagal. Jumlah penduduk terus bertambah, tapi pasokan pangan terbatas. Itu ancaman nyata yang harus segera kita jawab,” tegasnya.
Meski tantangan besar menghadang, Erikson meyakini justru di sanalah terbuka peluang emas. Sektor pangan adalah sektor yang selalu dibutuhkan, karena menyangkut kebutuhan dasar manusia. Permintaan pangan akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi dunia.
“Dari sisi ekonomi, sektor pangan sangat menjanjikan. Pertanyaannya, siapa yang akan menjawab peluang ini? Saya percaya generasi muda desa memiliki kapasitas lebih untuk mengakses inovasi dan teknologi pertanian modern, mulai dari pertanian presisi, pemanfaatan pupuk ramah lingkungan, hingga digital farming,” ujarnya.
Ia menegaskan, generasi muda desa tidak boleh ragu untuk mengambil peran. Mereka lebih adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, serta punya energi besar untuk berinovasi. Dengan dukungan pemerintah dan kebijakan yang tepat, anak muda dapat menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan baru sekaligus benteng ketahanan pangan bangsa.
“Jalan ini memang penuh tantangan, tetapi juga penuh harapan. Dengan kerja keras, pemanfaatan teknologi, serta kebijakan yang mendukung, anak muda desa bisa menjadi ujung tombak ketahanan pangan Indonesia, bahkan solusi bagi dunia,” jelasnya.
Di akhir pesannya, Erikson kembali mengingatkan bahwa desa tidak boleh dipandang sebelah mata. Justru dari desa lah lahir kekuatan besar bagi masa depan bangsa.
“Belajar, bekerja, dan berinovasi di desa adalah kekuatan nyata untuk menjaga ketahanan pangan. Anak muda desa harus berani maju, karena masa depan pertanian Indonesia ada di tangan mereka,” pungkasnya













