KIPRAH PT. INALUM DALAM MELAKUKAN REVITALISASI PANTAI SEJARAH BATU BARA DENGAN MENYATUKAN ALAM DAN MODERNITAS

Batu Bara, polmas

PT Indonesia Asahan Aluminium atau INALUM sepanjang Tahun 2023 tetap melakukan revitalisasi dan pengembangan budidaya kawasan Mangrove di Pantai Sejarah Kabupaten Batu Bara. Revitalisasi dan pengembangan kawasan mangrove ini merupakan salah satu program peningkatan perekonomian masyarakat di Kabupaten Batu Bara yang diimplementasikan dalam bentuk Pengembangan Pariwisata dan Konservasi Pantai melalui penanaman mangrove dan perlindungan satwa langka.

Corporate Secretary INALUM Mahyaruddin Ende menyebut bahwa program pengembangan dan revitalisasi kawasan pantai sejarah merupakan upaya yang berkelanjutan dilakukan oleh PT. INALIM sejak tahun 2020. Ia menyatakan bahwa program tersebut memberikan solusi konkrit 3 masalah besar di kawasan pesisir Pantai Sejarah yaitu Prostitusi, Abrasi, dan Ketimpangan Ekonomi.

“INALUM sebagai sebuah perusahaan menyadari bahwa pesisir Pantai Batu Bara merupakan kawasan vital bagi masyarakat nelayan dan ekosistem lingkungan. Oleh karena itu, INALUM melaksanakan program berkelanjutan sejak 2020 dan berharap bisa menjadi solusi untuk 3 masalah besar di kawasan tersebut. Kami berharap, program ini bisa terus berjalan dan seluruh elemen masyarakat mendukung program kebaikan ini,” ujar Mahyaruddin.

Diungkapkan Mahyaruddin, Program pengembangan dan revitalisasi pantai sejarah Batu Bara yang sudah berjalan sejak Tahun 2020 memiliki fokus utama pada Penanaman Mangrove. Lalu ucapnya, di Tahun 2021, INALUM mulai berinovasi untuk menciptakan kawasan wisata mangrove dan selanjutnya pada Tahun 2022, melakukan pengembangan Batik Mangrove dengan ibu-ibu dan perempuan sebagai pihak yang diberdayakan. Pada tahun 2023, jelas Mahyaruddin, INALUM juga melakukan inovasi lanjutan demi menciptakan kawasan wisata yang komprehensif dan lengkap secara pelayanan.

Ditambahkannya, selama 4 Tahun program berjalan, INALUM telah memberikan solusi atas 3 masalah krusial di Kawasan Pantai Sejarah yaitu Prostitusi, Abrasi, dan Pertumbuhan Ekonomi. Program ini menurut Mahyaruddin Ende, secara penuh mendorong masyarakat untuk menghilangkan prostitusi dari kawasan pantai sejarah Batu Bara dan menjadikannya kawasan ramah keluarga. “Berdasarkan fakta empiris yang ada program pengembangan dan revitalisasi pantai sejarah Batu Bara ternyata berhasil memberikan perlindungan dari abrasi laut dengan penanaman mangrovenya. Terakhir INALUM berhasil melakukan peningkatan ekonomi masyarakat pascapandemi Covid-19 dengan program-program inovasinya”, terang Mahyaruddin memberitahukan.

Lebih lanjut Mahyaruddin mengemukakan, Program yang dilakukan oleh INALUM dilaksanakan dengan kolaborasi dan sinergisitas lintas disiplin ilmu. Hal tersebut tegasnya, dikarenakan industri pariwisata memiliki kompleksitas dan hanya bisa dijawab dengan kolaborasi. Dalam eco-wisata dan konservasi sambung Mahyaruddin, perusahaan banyak memberikan sharing knowledge, diantaranya; HSE mendorong efektifitas penanaman mangrove. Kemudian ilmu teknik sipil dengan lanscaping dan pengembangan destinasi. Lalu Humas dan IT dengan pemasaran digital destinasi wisata.

Masih menurutnya, Konservasi mangrove telah berhasil menjaga areal hutan mangrove eksisting seluas 15 ha, dan melakukan penanaman bertahap seluas 5 ha, selain itu KTCA juga terlibat dalam penyediaan bibit mangrove untuk ditanam di Pantai Jono, Desa Lalang dan di Pantai Asahan. Ekosistem Mangrove memiliki kemampuan efektif dalam menyerap CO2 hingga 871,9 Ton CO2/ha/tahun.

Terkait dengan upaya pengembangan dan revitalisasi pantai sejarah Batu Bara, Informasi tambahan yang disampaikan oleh Departemen Humas INALUM mengkabarkan selama 4 tahun berjalan terdapat beberapa pencapaian yang berhasil diejawantahkan antara lain:

Penanaman 51.000 Bibit Bakau (Rhizophora Stylosa). Konservasi 20 ha lahan mangrove dan perluasan konservasi di Pantai Jono Desa Lalang dan Pantai di Kab. Asahan.

Menghasilkan akumulasi hingga Rp 910 juta per tahun untuk pariwisata yang melahirkan 70 UMKM baru di Pantai Sejarah (pendapatan Rp 150-200 ribu/bulan). Total kini sudah lebih dari 40 orang yang bekerja sebagai pengelola wisata Batu Bara Mangrove Park. Kemudian ada pula kelompok UMKM beranggotakan 20 orang, Membatik 20 orang, Tunjang Bakau 15 orang, dan Silvo Fishery 20 orang. Belum lagi termasuk pekerja yang dibayar harian jika hari-hari libur dan kunjungan meningkat. Selain itu, INALUM dan KTCM juga berkolaborasi dalam memberikan keterampilan baru “membatik” bagi 20 orang perempuan sekaligus memberikan keterampilan digital marketing pada Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) Kolaborasi bersama 2 Kelompok Konservasi (KTCM) dan Ikatan Mahasiswa Batu Bara (IMABARA)) melahirkan Kelompok Kerajinan Batik (Batik Bunga Mangrove)

Kini wajah Pantai Sejarah Batu Bara sudah jauh berubah. INALUM pun mengusulkan Namanya diubah menjadi Batubara Mangrove Park (BBMP). Usulan itu diterima Masyarakat. Jumlah kunjungan pun terus meningkat. Hari biasa rata-rata 100 pengunjung, jika weekend mencapai 1.500 hingga 2.000 pengunjung. Bahkan saat libur hari besar mencapai 5.000 pengunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *