TINGKATKAN KEHANDALAN PRODUK ALUMINIUM DALAM NEGERI, PT. INALUM (PERSERO) TANDATANGANI MoU DENGAN EGA

Bali, (Polmas)

PT. Indonesia Asahan Aluminium (Persero) menunjukan komitmen terhadap lingkungan, termasuk perubahan iklim menjadi agenda prioritas yang disepakati Anggota Negara G20 pada KTT G20 di Bali yang berlangsung Tanggal 15-16 November 2022 kemarin. Komitmen tersebut merupakan salah satu strategi untuk mewujudkan visi nasional yaitu program dekarbonisasi yang fokus pada transisi energi.

Konkritnya pada Senin (14/11) bertempat di arena KTT G20 Bali, PT. INALUM (Persero) menandatangani MoU dengan EGA yang berisi perjanjian studi kelayakan terkait pengembangan perluasan brownfield Inalum di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Penandatanganan MoU itu dilakukan oleh Direktur Utama INALUM, Hendi Prio Santoso dan CEO EGA, Abdulnasser Bin Kalban.

Hendi menyebut bahwa penandatanganan Mou ini diharapkan dapat meningkatkan performa INALUM dalam hal hal peningkatan knowledge dan investasi industri aluminium nasional sehingga INALUM mampu naik level dan menjadi wajah modernitas dalam industri pengolahan aluminium nasional, sekaligus bukti kepada industri global bahwa INALUM memproduksi aluminium yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi listrik dari PLTA Siguragura. Selain itu, kolaborasi strategis ini memberikan kesempatan kepada INALUM untuk meningkatkan produksi sampai double capacity.

“EGA adalah mitra pilihan INALUM untuk ekspansi brownfield Kuala Tanjung berdasarkan efisiensi teknologi peleburan EGA dan pengalaman mentransfernya secara internasional serta potensi kemitraan perusahaan sebagai investor dan/atau offtaker logam. Tahapan strategis berupa studi kelayakan bankable ini menjadi langkah berikutnya sebelum kita memulai konstruksi,” ujar Hendi.

Lebih lanjut dikatakannya, sebagai BUMN pengolahan aluminium terbesar di Indonesia, INALUM menjaga kehandalan dan meningkatkan performa industri aluminium nasional melalui kerjasama dengan Emirates Global Aluminium (EGA) yang merupakan perusahaan industri terbesar di luar sektor migas dari Uni Emirat Arab. Dengan rencana ekspansi ini, sebut Hendi, INALUM diharapkan memiliki tambahan kapasitas lebih dari 400 ribu ton aluminium/tahun.

Masih menurut Hendi, INALUM terus melakukan inovasi dengan melakukan inisiatif pengembangan proyek strategis diantaranya: Proyek Upgrading Teknologi Tungku Reduksi, Optimalisasi Smelter Aluminium Kuala Tanjung, Proyek Smelter Grade Alumina Refinery di Mempawah, dan Pembangunan Aluminium Remelt IAA sejalan dengan potensi besar pangsa pasar aluminium baik secara domestik dan regional.

“INALUM terus berupaya mewujudkan pengembangan klaster industri aluminium nasional. Selain itu, INALUM juga melakukan kolaborasi dengan PLN dalam rangka menciptakan ketersediaan energi di Sumatera Utara,” tutup Hendi.

CEO EGA, Abdulnasser Bin Kalban dalam kesempatan penandatanganan MoU tersebut menyatakan jika aksi korporasi perluasan ini berhasil maka INALUM diharapkan memiliki tambahan kapasitas lebih dari 400 ribu ton aluminium/tahun. Dia menguraikan investasi potensial dalam perluasan brownfield Kuala Tanjung dan penjualan logam akan memajukan pertumbuhan aluminium rendah karbon yang akan memungkinkan kehidupan modern di seluruh dunia sekaligus melindungi bumi ini untuk generasi mendatang.

“Perjanjian ini merupakan langkah maju yang penting dalam kerja sama kami dengan INALUM, dan mendekatkan penyebaran teknologi yang dikembangkan UEA di Indonesia. Saya berterima kasih kepada INALUM atas kepercayaan mereka yang berkelanjutan pada EGA sejalan dengan kemitraan antara kedua negara”, ungkap Abdulnasser Bin Kalban.

Berada di jalur khatulistiwa membuat Indonesia melimpah akan kekayaan sumber daya alamnya. Subur Tanahnya, Luas Lautnya. Dianugerahi banyak ‘harta’ yang masih tersimpan di dalam tanah, kekayaan alamnya, termasuk mineral didalamnya. Ini sangat banyak potensi yang dapat dikelola untuk kemakmuran negeri. Oleh karena itu berkolaborasi bersama Holding Industri Pertambangan di Indonesia, Mining Industry Indonesia (MIND ID) berperan aktif sebagai pemain utama penghasil komoditas ini. Melalui salah satu anggotanya PT. INALUM (Persero) mengambil langkah strategis.

Seperti diketahui, permintaan kendaraan listrik berbasis baterai semakin meningkat trendnya, hal ini pula menjadi alasan berlombanya para produsen kendaraan bermotor memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai. Tak heran jika listrik menjadi salah satu energi populer dalam menggerakkan banyak aspek di kehidupan ini, salah satunya sektor transportasi. Penyediaan energi listrik yang ramah lingkungan menjadi andalan utama dalam mendukung transisi energi. Untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut dibutuhkan bahan dasar tambang yang tidak sedikit, mulai dari aluminium, nikel, tembaga, hingga timah, dan Indonesia menjadi salah satu negara utama penghasil komoditas tambang tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed