Tarutung | Tabloid Polmas Poldasu
Komitmen Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dalam menyusun arah pembangunan Tahun Anggaran 2027 diharapkan benar-benar menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas utama. Harapan tersebut disampaikan Jekson L. Tobing, SE, yang dikenal di media sosial Facebook dengan nama Jejetobing Sumuntul, melalui sebuah surat terbuka yang diunggah di akun Facebook pribadinya dan ditujukan kepada para pengambil kebijakan di wilayah Tapanuli, khususnya Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.
Dalam surat terbukanya, petani kemenyan tersebut menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Tapanuli Utara tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan. Menurutnya, lebih dari 80 persen wilayah Tapanuli merupakan kawasan pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama masyarakat sekaligus penopang ketahanan pangan daerah.
Jekson menilai berbagai sektor lain, termasuk pariwisata, memang memiliki potensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun hingga saat ini, kontribusinya masih belum mampu menggantikan peran strategis sektor pertanian sebagai penggerak utama roda perekonomian masyarakat pedesaan.
“Oleh karena itu, kebijakan pembangunan harus benar-benar berpihak kepada petani. Keberpihakan itu tidak cukup hanya dalam bentuk program, tetapi juga diwujudkan melalui regulasi yang memberikan kemudahan akses permodalan, ketersediaan pupuk, pembangunan dan perbaikan irigasi, pendampingan teknologi pertanian, serta jaminan pemasaran hasil panen,” tulis Jekson dalam surat terbukanya.
Selain mendorong keberpihakan terhadap petani, ia juga menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Menurutnya, praktik korupsi maupun penyalahgunaan anggaran hanya akan menghambat kemajuan sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Tapanuli Utara.
Ia juga menyoroti penandatanganan Nota Kesepakatan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2027 yang dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tapanuli Utara pada Rabu (29/7/2026). Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk menunjukkan keberpihakan nyata pemerintah terhadap pembangunan sektor pertanian.
Namun demikian, Jekson mengingatkan bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak akan pernah berkelanjutan apabila pembangunan mengabaikan kelestarian lingkungan. Baginya, alam merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan kehidupan petani sekaligus penentu keberhasilan pembangunan pertanian.
Sebagai refleksi, ia mengingat kembali bencana alam yang terjadi pada November 2025 yang mengakibatkan rusaknya areal persawahan di dua kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara. Dampak bencana tersebut menyebabkan penurunan produktivitas pertanian dan hingga kini sebagian lahan masih belum sepenuhnya pulih.
“Peristiwa itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Ketika alam rusak, petani menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya, dan pada akhirnya perekonomian daerah juga ikut melemah,” ungkapnya.
Karena itu, Jekson mendorong agar strategi pembangunan Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2027 tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga memperkuat mitigasi bencana, menjaga kawasan resapan air, merehabilitasi lahan kritis, melestarikan kawasan hutan, serta melindungi sumber daya alam sebagai fondasi kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.
Di akhir surat terbukanya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memandang sektor pertanian bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Kabupaten Tapanuli Utara.
“Menjaga alam hari ini berarti menjaga masa depan petani. Menjaga petani berarti menjaga ketahanan pangan. Menjaga ketahanan pangan berarti menjaga masa depan ekonomi Tapanuli Utara. Inilah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan bagi anak cucu di masa mendatang,” tegasnya.
Surat terbuka tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari besarnya investasi maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pembangunan, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Sebab, pertanian yang kuat hanya dapat terwujud apabila alam tetap lestari.







