TARUTUNG – TABLOIDPOLMASPOLDASU.ID
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarutung terus memperkuat budaya keselamatan (safety culture) di lingkungan rumah sakit dengan menggelar simulasi tanggap darurat kebakaran yang melibatkan sekitar 50 pegawai. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Bulutangkis RSUD Tarutung, Jumat (10/7/2026), tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapsiagaan seluruh pegawai dalam menghadapi potensi kebakaran.
Simulasi diselenggarakan oleh Bagian Umum RSUD Tarutung di bawah koordinasi Kepala Bagian Umum Naomi Veronika Aritonang dengan menghadirkan personel Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Tapanuli Utara sebagai instruktur lapangan. Kegiatan turut dihadiri Wakil Direktur Umum RSUD Tarutung Dortiana Simanjuntak, SE., M.Si., Wakil Direktur Pelayanan drg. Karen Lumbantobing, serta jajaran manajemen rumah sakit.
Wakil Direktur Umum RSUD Tarutung, Dortiana Simanjuntak, mengatakan bahwa rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan publik yang memiliki tingkat risiko tinggi sehingga seluruh sumber daya manusia di dalamnya harus memahami prosedur penanganan keadaan darurat, khususnya kebakaran.
“Kesiapsiagaan menghadapi kebakaran bukan sekadar memenuhi kewajiban atau formalitas. Ini merupakan komitmen bersama untuk melindungi keselamatan pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, pegawai, serta menjamin keberlangsungan pelayanan rumah sakit. Melalui simulasi ini kami ingin membangun budaya sadar keselamatan agar setiap pegawai mampu bertindak cepat, tepat, dan tidak panik saat menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, personel Damkar Taput memberikan materi mengenai teori dasar kebakaran, termasuk konsep Segitiga Api yang terdiri dari unsur panas, oksigen, dan bahan bakar. Peserta dijelaskan bahwa api hanya dapat dipadamkan apabila salah satu unsur tersebut diputus melalui metode pendinginan (cooling), penyelimutan (smothering), maupun penggunaan bahan pemadam kimia menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Selanjutnya, peserta mengikuti praktik penggunaan APAR dengan metode TATS (Tarik, Arahkan, Tekan, dan Sapu). Instruktur menjelaskan tahapan penggunaan APAR, mulai dari menarik pin pengaman, mengarahkan selang ke pangkal api dengan jarak aman sekitar tiga meter, menekan tuas, hingga menyapu semprotan secara merata sampai api padam.
Selain penggunaan APAR, peserta juga memperoleh edukasi mengenai penanganan kebakaran secara sederhana apabila alat pemadam belum tersedia. Tim Damkar mengingatkan bahwa penggunaan air hanya diperbolehkan untuk kebakaran Kelas A, seperti kayu, kertas, dan kain. Sementara kebakaran akibat minyak, lemak, maupun korsleting listrik tidak boleh dipadamkan menggunakan air karena berpotensi memperbesar kobaran api dan menimbulkan risiko sengatan listrik. Sebagai alternatif, api dapat dipadamkan dengan cara menutup sumber api menggunakan kain tebal atau karung goni basah untuk memutus suplai oksigen.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan melibatkan seluruh peserta dalam praktik pemadaman api secara langsung. Manajemen RSUD Tarutung berharap simulasi ini dapat meningkatkan kemampuan seluruh pegawai dalam menghadapi situasi darurat, meminimalkan risiko kebakaran, serta mewujudkan lingkungan rumah sakit yang aman, tanggap, dan siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.







