Menjadi Jurnalis: Beritakan Kebenaran, Hidupkan Kasih Tanpa Menghakimi  

 

Oleh: Tuppal Siburian

Bacaan: Amsal 18:12; Amsal 19:11; Mikha 6:8

 

“Sebelum kehancuran hati orang meninggikan diri, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan… Akal budi membuat orang panjang sabar, dan itu suatu kehormatan baginya mengampuni kesalahan… Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik dan apa yang dituntut TUHAN dari padamu: berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”

 

Saudara-saudara seprofesi dan rekan-rekan jurnalis yang terkasih,

 

Sebagai wartawan, kita memegang amanah besar: menjadi penyampai informasi, pengawal kebenaran, dan mata serta telinga masyarakat. Setiap hari kita bersentuhan dengan berbagai peristiwa, latar belakang orang yang beragam, serta persoalan yang tidak selalu hitam atau putih. Di tengah tugas ini, sering kali kita tergoda untuk merasa paling tahu, paling benar, dan dengan cepat menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan, hanya dari satu sisi berita, atau dari kesalahan yang pernah terjadi. Padahal di balik setiap peristiwa dan setiap orang, ada alasan, pergumulan, dan proses hidup yang tidak selalu kita ketahui sepenuhnya.

 

Hidup ini ibarat sebuah perjalanan panjang yang kita lalui bersama, baik dalam tugas liputan, penulisan, maupun pergaulan sesama rekan kerja. Kita berbagi suka duka dalam mencari fakta, menghadapi tekanan, dan menjaga integritas. Namun sering kali tanpa sadar, kita menjadikan sudut pandang sendiri sebagai standar mutlak. Ketika melihat rekan yang berbeda cara kerja, narasumber yang memiliki pendapat lain, atau pihak yang melakukan kesalahan, hati kita begitu mudah menilai, menyimpulkan, bahkan menghakimi seolah-olah kita tidak pernah luput dari kekhilafan.

 

Namun, firman Tuhan dalam Perjanjian Lama mengingatkan kita dengan tegas dan lembut: “Berlakulah adil, cintailah kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati.” Pesan ini sangat relevan bagi profesi kita. Berlaku adil berarti dalam menulis dan menyampaikan berita, kita tidak memihak, tidak memutarbalikkan fakta, dan memberikan ruang bagi semua pihak untuk didengar. Cintai kesetiaan berarti kita jujur pada kebenaran, tidak menjual prinsip, dan menyampaikan informasi apa adanya tanpa menambah atau mengurangi demi kepentingan tertentu. Sementara kerendahan hati mengajarkan kita untuk sadar bahwa kita pun terbatas pengetahuannya, sehingga tidak berhak menjatuhkan vonis akhir atas hidup dan tindakan orang lain.

 

Kerendahan hati adalah kunci agar kita tidak cepat meninggikan diri dan merasa paling benar. Orang yang rendah hati sadar bahwa ia pun tidak sempurna, sehingga lebih memilih bersabar dan memahami daripada segera menjatuhkan vonis. Hikmat Allah mengajarkan bahwa mengampuni dan melihat sisi baik jauh lebih mulia daripada terus mencari-cari kesalahan untuk disorot dan dihakimi.

 

Setiap manusia memiliki latar belakang, pergumulan batin, dan perjalanan hidup yang unik. Hanya Tuhanlah yang mengetahui segala sesuatu secara sempurna, isi hati, dan alasan di balik setiap tindakan. Dialah yang berhak menilai, bukan kita. Tugas kita sebagai wartawan adalah mengungkap fakta, bukan memutuskan siapa yang berdosa dan siapa yang suci. Jika Allah yang Maha Suci dan Maha Mengetahui saja bersabar menanti proses pertumbuhan kita, menerima kita apa adanya meski masih banyak kekurangan, maka sudah selayaknya kita pun belajar mempraktikkan sikap kasih dan pengertian yang sama dalam menjalankan tugas.

 

Perlu kita sadari, tidak menghakimi bukan berarti membenarkan kesalahan atau menutupi kenyataan. Sebaliknya, sikap ini lahir dari kerendahan hati yang sejati: kita mengakui bahwa kita sendiri pun masih membutuhkan bimbingan dan pengampunan setiap hari. Dalam menulis, kita bisa menyampaikan apa yang salah dan apa yang benar, namun dengan bahasa yang membangun, tidak menyakiti, dan tidak merendahkan martabat manusia. Kita menyampaikan fakta untuk memperbaiki keadaan, bukan untuk mempermalukan atau menghancurkan masa depan seseorang.

 

Sering kali, tulisan dan ucapan kita yang terlalu cepat menilai justru menjadi luka yang sulit sembuh bagi orang lain. Kata-kata yang tajam tanpa belas kasih bisa merusak nama baik, memutus harapan, dan memecah persaudaraan. Maka firman Tuhan mengajak kita mengubah arah pandang: alih-alih sibuk mencari kesalahan untuk dijadikan sensasi, mari kita fokus menjaga hati dan sikap agar pemberitaan kita menjadi saluran berkat. Jadilah wartawan yang lebih banyak memahami konteks daripada menyalahkan, lebih banyak menguatkan daripada merendahkan, dan lebih banyak memberi ruang perbaikan daripada memutus harapan.

 

Mari kita bawa pesan ini dalam hidup dan tugas kita sehari-hari. Sebagai wartawan, tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan jujur dan bertanggung jawab, namun tetap dibalut dengan sikap saling menghargai dan kasih. Jika kita menjumpai perbedaan pendapat, kesalahan, atau sikap yang belum sempurna, tahanlah hati untuk tidak cepat menghakimi. Ingatlah bahwa kasih yang sejati tidak memandang kelemahan untuk disalahkan, tetapi melihat potensi kebaikan untuk ditumbuhkan.

 

Semoga melalui sikap saling menerima dan tidak saling menghakimi, lingkungan kerja, persaudaraan sesama jurnalis, dan karya tulis kita menjadi taman kasih yang penuh damai sejahtera. Di sana, kebenaran disampaikan dengan bijak, tajam namun santun, dan kasih nyata dalam tindakan: saling mengampuni, saling menopang, dan saling menguatkan satu sama lain dalam mengemban amanah profesi yang mulia ini.

 

DOA PENULIS

Tuhan Yang Maha Mengetahui Segala Hati,

 

Sebagai insan yang mengemban tugas menyampaikan kebenaran, aku memohon tuntunan-Mu. Jadikanlah aku jurnalis yang setia pada fakta, namun lembut dalam menyampaikan. Ajari aku untuk tidak cepat menghakimi, tidak menilai hanya dari apa yang tampak di permukaan, dan selalu menyisakan ruang pengertian bagi setiap orang yang kutemui dan kutulis.

 

Bukalah hatiku agar sadar bahwa aku pun tidak sempurna, masih penuh kekurangan, dan senantiasa membutuhkan belas kasih dan pengampunan-Mu. Jauhkan aku dari rasa paling benar dan sikap merendahkan sesama. Jadikanlah setiap tulisan, ucapan, dan laporanku menjadi saluran berkat yang membangun, menguatkan, dan menjaga martabat setiap manusia.

 

Semoga dalam menjalankan tugas dan melangkah dalam hidup, aku senantiasa berpegang pada keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati. Semoga damai sejahtera-Mu yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiranku setiap waktu.

Amin.

 

Penulis Adalah :

Berprofesi sebagai wartawan Tabloid Polmas Polda Sumatera Utara. Dalam pelayanan dan permenungan iman, senantiasa belajar melihat sisi baik dan benih kebaikan yang ada di dalam hati setiap sesama.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *