Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, didampingi Ketua TP PKK Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat, secara resmi membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Pahae Julu yang digelar di Gereja HKBP Lumban Garaga, Kecamatan Pahae Julu, Senin (23/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam penyusunan arah pembangunan daerah berbasis aspirasi masyarakat.
Musrenbang tersebut turut dihadiri anggota DPRD Tapanuli Utara Daerah Pemilihan IV, yakni Jufri Sitompul, Jimmy Tambunan, dan Erwin Simamora, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), para kepala desa, kepala sekolah, tenaga kesehatan, penyuluh pertanian, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan.
Dalam arahannya, Bupati menegaskan bahwa pembangunan di Kabupaten Tapanuli Utara tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus melalui tahapan perencanaan yang matang, terukur, dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya keselarasan antara gagasan, regulasi, serta dukungan anggaran agar program yang dirancang benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Tidak ada pembangunan yang instan. Semua harus melalui perencanaan yang matang, selaras antara ide, regulasi, dan dukungan anggaran. Kita harus berpikir lima hingga dua puluh lima tahun ke depan, bukan hanya satu tahun,” tegas Bupati.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten tengah menyusun Rencana Induk Pembangunan 25 Tahun sebagai arah kebijakan jangka panjang yang berkesinambungan. Dokumen tersebut diharapkan menjadi pedoman bersama lintas periode kepemimpinan, sehingga pembangunan tetap berjalan konsisten sesuai visi besar daerah.
Lebih lanjut, Bupati menekankan perlunya perubahan pola pikir aparatur sipil negara (ASN), dari budaya menunggu menjadi budaya kerja yang inovatif, proaktif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan anggaran, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.
Dalam pemaparannya, Bupati menyampaikan tiga fokus utama pembangunan daerah, yakni penguatan sentra pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta pengembangan sektor pariwisata. Ketiga sektor tersebut, katanya, harus berjalan secara terintegrasi dan saling mendukung melalui kolaborasi lintas perangkat daerah.
Sebagai contoh, ia menyinggung pengembangan Salib Kasih yang dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai dinas, mulai dari pembangunan infrastruktur jalan, penguatan UMKM, hilirisasi pertanian, hingga pelestarian nilai budaya dan pendidikan. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Bupati juga menyoroti pentingnya efisiensi dan perampingan organisasi perangkat daerah guna mengoptimalkan pemanfaatan anggaran. Ia mengakui bahwa kondisi fiskal daerah saat ini cukup terbatas, sehingga diperlukan langkah strategis agar setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Kita harus berani melakukan penyesuaian dan efisiensi. Tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan agar anggaran yang terbatas dapat kita alokasikan secara tepat sasaran demi kepentingan lebih dari 230 ribu masyarakat Tapanuli Utara,” ujarnya.
Menutup arahannya, Bupati mengajak seluruh peserta Musrenbang untuk menyampaikan usulan pembangunan berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan riil masyarakat. Ia berharap, hasil Musrenbang ini benar-benar menjadi dasar penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang responsif, partisipatif, dan berkeadilan.
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyerahkan bantuan bibit beras kepada dua kelompok tani dari dua desa di Kecamatan Pahae Julu sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan dan penguatan sektor pertanian.
Dengan dibukanya Musrenbang Kecamatan Pahae Julu, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat terus memperkuat sinergi dan kolaborasi demi mewujudkan pembangunan Tapanuli Utara yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan.







