Kisah Tim Relawan Sarma Hutajulu Tembus Medan Sulit Salurkan 150 Ton Bantuan ke Tapteng

Tapteng-PolmasPoldasu.id

 

Cerita saat bencana selalu menyisakan air mata. Ada yang harus kehilangan orang tua, anak, pasangan hidup, hingga sahabat dan kerabat.

 

Begitu juga cerita di setiap bencana selalu hadir simpati dan empati dari para tim relawan. Tak saling mengenal, bukan saudara, atau hubungan pertemanan, tapi ada saja orang yang bersedia untuk berjibaku di lokasi bencana. Menerjang bahaya demi ikut membantu evakuasi hingga mendistribusikan bantuan dan menghibur para korban. Bukan untuk mengantar nyawa, tapi menyelamatkan nyawa.

 

Mereka hadir menjadi pahlawan, di tengah suasana kalut dan duka. Mereka disebut relawan kemanusiaan. Tanpa pamrih, tanpa bayaran, tapi tulus menolong, meski harus berpeluh. Berkorban waktu, tenaga dan biaya.

 

Pentingnya peran relawan juga diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Setiap 5 Desember diperingati sebagai Hari Relawan Internasional atau International Volunteer Day dan diperingati di 80 negara di dunia. Ini adalah amanat Majelis Umum PBB pada tahun 1985.

 

Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan update tertanggal 13 Desember 2025, korban meninggal dunia imbas bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, total korban mencapai 1.006 orang. Khusus di Sumut sesuai data terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB), jumlah korban meninggal dunia bencana tertanggal 13 Desember 2025 tercatat 348 jiwa meninggal. Bencana tersebut tersebar di 12 dari 18 kabupaten/kota.

 

Rincian korban meninggal bencana Sumut tercatat di Kabupaten Tapanuli Utara sebanyak 36 orang, Kabupaten Tapanuli Selatan 86 orang, Kota Sibolga 54 orang, Kabupaten Humbang Hasundutan sembilan orang, dan Kota Padangsidimpuan satu orang, Kabupaten Pakpak Bharat dua orang, Kota Medan 12 orang, Kabupaten Langkat 13 orang, Kabupaten Deliserdang 17 orang, Kabupaten Nias satu orang, dan Kabupaten Nias Selatan satu orang dan yang terbanyak di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mencapai 116 orang.

 

Angka korban jiwa di Kabupaten Tapteng terus bertambah, data terbaru yang dikeluarkan Tim Penanggulangan Bencana Darurat Kabupaten Tapteng pada Minggu 14 Desember 2025, jumlah penduduk yang terdampak bencana alam sebanyak 296.453 jiwa (73,58%), meninggal dunia 122 jiwa, penduduk yang luka 26 jiwa, dalam pencarian 50 jiwa, dan jumlah yang mengungsi sebanyak 10.887 jiwa.

 

Angka ini menunjukkan bahwa wilayah Tapteng ini adalah daerah terparah di Sumut yang dihantam bencana banjir bandang dan longsor pada 25 November 2025 lalu, di mana 18 Kecamatan dari 20 Kecamatan yang ada di Tapteng porak-poranda. Tercatat 19 kelurahan dan desa hingga saat ini masih terisolir.

 

Bupati Tapteng Masinton Pasaribu dan Wakil Bupati Mahmud Efendi serta para relawan hingga saat ini terus berjibaku mengantarkan logistik bantuan sembako sembari memperbaiki sarana infrastruktur jalan yang terputus di berbagai wilayah agar logistik bantuan dapat tersalurkan kepada seluruh warga yang terdampak.

 

Tidak terkecuali bagi tim relawan yang dibentuk Sarma Hutajulu bersama influencer Sherly Napitu dari Inggris Dina Silalahi pejuang kanker, Norma Sinaga, pejuang lingkungan, Mariani Songket dan lainnya, pada tanggal 25 November 2025 lalu langsung menggalang donasi dan membentuk tim relawan kemanusiaan dan hingga saat ini terus berjibaku membagikan logistik bantuan ke berbagai penjuru Desa dan Kelurahan yang terdampak bencana.

 

Sarma menyampaikan, banyak teman-temannya dari berbagai Negara serta relawan dari luar daerah Tapteng dan Sibolga ikut mendukung. Bencana yang melanda wilayah Kabupaten Tapteng dan Kota Sibolga menurutnya menyisakan trauma yang mendalam bagi warga terdampak.

 

Di tengah medan yang sulit karena infrastruktur yang hancur, para relawan bentukan Sarma Hutajulu ini tidak hanya membawa logistik, tetapi juga harapan bagi mereka yang terisolasi. Di tengah bencana, tim relawan ini menjadi tim pertama yang berhasil menjangkau desa yang terisolir membawa logistik bantuan ke berbagai wilayah pelosok Tapteng.

 

Mereka harus berjalan kaki puluhan kilometer selama puluhan jam sambil memanggul beban sembako dan kebutuhan lainnya yang cukup berat, seperti pakaian bekas, bahkan membagikan uang tunai melewati timbunan longsor. Menghadapi jalur yang rusak parah. Bagi mereka, hujan itu alarm hidup dan mati, tangan mereka ringan, dan tak pernah lepas melantunkan doa untuk keselamatan.

 

Meskipun mereka bukan penduduk Kabupaten Tapteng dan Kota Sibolga, mereka tetap bergerak sebagai penghubung bagi relawan luar untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

 

olaborasi influencer dan relawan ini menunjukkan kekuatan kolaborasi melalui penggalangan dana. Mereka mampu berhasil mengumpulkan donasi hingga miliaran dan membagikan bantuan 150 ton untuk para korban. Bantuan disalurkan langsung ke daerah-daerah sulit dengan dukungan dari TNI-Polri, aparatur kecamatan, kelurahan dan desa, serta kepala lingkungan.

 

“Puji Tuhan, respons netizen itu sungguh luar biasa. Kita kampanyekan bagaimana menolong teman-teman, saudara-saudara kita yang di Tapteng dan Sibolga,” ujar Sarma Hutajulu ketika memberikan bantuan kepada wartawan yang terdampak bencana di Posko Wartawan ruang Cendrawasih kantor Bupati Tapteng.

 

Mantan anggota DPRD Sumatera Utara itu menuturkan, pada tangga 25 November 2025 saat kejadian bencana, mereka membentuk tim relawan dan bersepakat membuka rekening donasi atas nama Sarma Hutajulu dan berhasil mengumpul dana hingga Rp 1,8 miliar, kemudian dibelanjakan dalam bentuk barang dan sembako.

 

“Kami ada dua tim, yakni saya sendiri yang hampir dua minggu di sini, kemudian Ibu Dina Silalahi dengan tim relawannya. Bantuannya lebih kurang 150 ton, ada sembako, selimut, handuk, tikar, terpal, obat-obatan, dan lainnya, bahkan uang uang tunai,” ucapnya.

 

Menurut Sarma, bantuan tersebut sudah didistribusikan hampir di 18 kecamatan yang ada di Tapteng. Distribusi bantuan lebih diutamakan ke dapur-dapur pengungsi. Kemudian, langsung menyentuh ke masyarakat korban banjir dan longsor.

 

“Kami juga sudah menyapa warga dengan menjelajahi beberapa desa yang parah dan terisolir, seperti di Kecamatan Tukka, Badiri dan lainnya,” sebutnya.

 

Ia pun mengapresiasi rekan tim relawan Tanpa memandang suku, agama, dan organisasi yang telah membantu percepatan distribusi bantuan. Menurut Sarma, selain Tapteng, bantuan itu juga didistribusikan ke Aek Parombunan dan Sibolga Julu, Kota Sibolga.

 

Sarma menceritakan, proses membawa bantuan kemanusiaan untuk korban bencana tidaklah mudah, karena akses jalan menuju Tapteng saat itu banyak terputus. Tepat saat peristiwa kejadian banjir, Kabupaten Tapteng terisolir, sebab jembatan Sorkam-Sibolga terputus, Jalan Pakkat-Barus terputus, Jalan Sibolga-Sidimpuan terputus. Ditambah cuaca tidak mendukung karena hujan masih terus menerus turun hingga membuat banjir susulan terus terjadi diberbagai wilayah Tapteng.

 

“Sejak awal, kami memang kesulitan. Banyak pula netizen mempertanyakan kenapa pergerakan bantuan lambat,” ujarnya.

 

Setelah pihaknya berkomunikasi dengan Bupati Masinton Pasaribu, jembatan Sorkam diperbaiki sehingga bantuan tahap pertama itu diorder dari Subulusalam, Aceh, sekaligus percobaan apakah jalur itu bisa dipakai.

 

Begitu juga saat mendistribusikan bantuan logistik tahap kedua, berhasil berkoordinasi dengan Bupati Humbahas yang memberitahu bahwa jalur Pakat-Tapteng sudah bisa dilewati namun dengan kapasitas ton 2 ton. Itulah yang kemudian bisa mempercepat para relawan membawa bantuan.

 

“Karena memang situasinya saat itu kita tidak bisa berkomunikasi apa-apa. Kita kesulitan di awal karena tidak tahu situasi di wilayah Tapteng seperti apa, sebab semua tidak ada komunikasi karena jaringan terputus. Yang biasa kita berkomunikasi lancar tidak bisa komunikasi, maka saya memutuskan walaupun dengan khawatir juga keluarga melepas untuk tetap pergi ke Tapteng untuk melihat keadaan dampak bencana dan menyalurkan bantuan logistik. Bantuan trip kedua, kami dari Medan berhasil melewati jalur itu meski jarak tempuhnya lebih jauh. Karena BBM juga krisis, perjalanan kami hampir dua hari,” katanya.

 

Sampai di Sorkam, lanjut Sarma, bantuan sempat terhenti karena jembatannya hanya bisa dilalui kendaraan yang tonasenya tak lebih dari 2 ton, selanjutnya berkomunikasi dengan Bupati dan Gubernur, supaya akses itu diperbaiki dan bisa dipakai membawa bahan bantuan.

 

“Jadi pas kita ke lapangan hampir dua minggu ini. Selain menyalurkan bantuan kebutuhan pokok, kebutuhan anak-anak, kebutuhan orang tua, kita juga memberikan catatan-catatan kepada pemerintah kabupaten supaya percepatan memberian bantuan yang lewat pemerintah itu jauh lebih cepat,” ucapnya.

 

Kemudian, pihaknya juga memberikan masukan kepada pemerintah kabupaten, agar bagaimana relokasi pengungsi dan tempat-tempat pengungsi yang tidak layak itu supaya cepat juga direlokasi untuk menghindari sakit penyakit, serta bagaimana juga percepatan komunikasi antara desa, kelurahan ke tim posko kabupaten sehingga bantuan yang selama ini sempat tersendat karena komunikasi tidak ada itu jauh lebih cepat penyalurannya.

 

“Hasilnya direspon, kita melihat juga Pak Bupati setiap hari melakukan evaluasi sehingga itu jauh lebih baik lagi setelah mulai ada komunikasi sampai ke kecamatan dan desa dan setelah ini banyak permintaan juga bahwa di samping kebutuhan pangan banyak saudara-saudara kita yang kehilangan tidak punya pakaian,” ungakapnya.

 

Mengetahui itu, tambah Sarma, pihaknya menyalurkan pakaian layak pakai bahkan ada yang baru juga. Dan pada Januari mendatang tim relawan berencana masih menggalang bantuan untuk membantu penyediaan seragam anak sekolah, terutama anak-anak SD dan SMP.

 

“Supaya anak-anak kita yang korban bencana banjir maupun longsor itu bisa merasakan kembali keceriaan bersekolah dan hak mereka atas pendidikan itu tidak terabaikan karena bencana banjir dan longsor,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *