Medan (POLMAS)
Hujan yang turun sejak 24 hingga 27 November 2025 bukan lagi sekadar cuaca buruk.
Ia menjelma menjadi dinding air yang merobohkan lereng, memutus jalan, menghanyutkan jembatan, dan menenggelamkan rumah hingga hanya genting yang tersisa.
Di tengah pekat lumpur dan suara gemuruh tanah yang patah, aparat kepolisian berdiri di garis paling depan bahkan ketika tempat tinggal mereka sendiri ikut tenggelam di belakang.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Dr. Ferry Walintukan SIK SH MH, menyebut 1.030 personel telah diterjunkan. Dari Samapta, Brimob, Dokkes, hingga Bid TIK.
Mereka tak pulang. Mereka tak menoleh ke rumah.
“Seluruh daya kami kerahkan. Kami tidak berhenti,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).
Ketika polisi menolong warga, rumah mereka sendiri Terendam tanpa pertolongan.
Bahkan, hampir tak ada yang tahu bahwa beberapa dari personel itu bekerja mengevakuasi korban, justru saat rumah mereka sendiri terendam dan keluarga mereka menunggu tanpa siapa pun datang, seperti yang terjadi pada asrama Brimob Polri saat ini di Jalan KH Wahid Hasyim, Medan.
Seorang warga terdampak banjir bandang di Desa Pangugunan Kecamatan Pakkat Humbahas, Sihotang di Humbahas menahan haru saat bercerita.
“Mereka menolong kami. Padahal rumah mereka sendiri tenggelam. Tapi tidak ada yang datang menolong mereka. Itu pengorbanan yang tidak bisa dibalas,” ujarnya.
Ada yang berhari-hari tak tahu apakah kasur mereka sudah hanyut. Ada yang belum mendengar suara anaknya karena komunikasi terputus.
“Namun mereka tetap bertahan di lapangan, menggali, menggendong, menembus arus banjir yang bisa menyeret siapa pun dalam hitungan detik,” ujarnya lagi.
Seperti diketahui, asrama personel Brimob Polda Sumut di Jalan Wahid Hasim Medan kini terendam banjir, sementara personel tengah menolong korban bencana di berbagai daerah di Sumut.
“Rumah mereka sendiri terendam banjir, tapi tak ada yang menolong,”ujar Sihotang.
Pencarian korban longsor di Desa Panggugunan, Pakkat, berlangsung hingga Kamis malam. Tanah masih bergerak. Retakan kecil bisa berubah menjadi runtuhan besar kapan saja.
Personel polisi menggendong anak-anak, menuntun lansia, dan menggali tubuh korban dengan sekop kecil ketika alat berat mustahil masuk. Di Sibolga dan Tapteng, mereka bekerja di tebing yang sudah patah, di bawah langit yang terus menghitam.
Bunyi gemuruh air bercampur suara batu yang pecah menjadi alarm alami—peringatan bahwa nyawa mereka sama tipisnya dengan warga yang mereka selamatkan.










