Tapanuli Utara — TB. Polmas Poldasu
Ketika pemerintah dan aparatur penegak hukum dinilai belum mampu merealisasikan aspirasi masyarakat yang terdampak oleh aktivitas industri, kini suara lantang datang dari lembaga keagamaan terbesar di Tanah Batak.
Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Viktor Tinambunan, secara tegas menyerukan penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan yang diduga kuat menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan di kawasan Danau Toba dan sekitarnya.
Langkah ini disebut sebagai keputusan berani dan bersejarah, karena disuarakan langsung oleh pucuk pimpinan gereja yang selama ini dikenal lebih fokus pada pelayanan rohani. Namun kali ini, gereja memilih turun gunung untuk membela masyarakat dan alam ciptaan Tuhan yang semakin terancam.
“Tanggung jawab gereja bukan hanya memberi nafkah rohani, tetapi juga memastikan keberlanjutan hidup umat, menjaga alam sebagai anugerah Tuhan. Ketika alam rusak, kehidupan manusia pun ikut terancam,” tegas Ephorus HKBP Pdt. Dr. Viktor Tinambunan dalam pernyataannya yang beredar di berbagai media, Rabu (29/10).
Ephorus menilai, keberadaan TPL selama puluhan tahun telah menimbulkan kerusakan ekologis masif, mulai dari hilangnya hutan adat, meningkatnya bencana banjir bandang dan tanah longsor, hingga menurunnya debit air di sungai-sungai sekitar Danau Toba pada musim kemarau.
Dampak itu, menurutnya, bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan yang nyata dirasakan masyarakat di berbagai desa terdampak.
Selain kerusakan hutan dan sumber air, aktivitas operasional TPL seperti pengangkutan kayu dan logistik juga disebut sering merusak jalan desa akibat beban berat kendaraan industri. Banyak warga mengeluh, jalan desa yang dulu bisa dilalui dengan mudah kini rusak parah dan membahayakan pengguna.
“Tidak seimbang antara apa yang diberikan dengan apa yang telah hilang dari alam dan masyarakat kita. Bantuan sosial, beasiswa, atau program CSR tidak bisa menutupi kerusakan yang ditimbulkan,” tegas Ephorus lagi.
Seruan HKBP ini dianggap sejalan dengan semangat pemerintah pusat menuju ekonomi hijau dan upaya global untuk menekan laju perubahan iklim. Menurut Ephorus, gereja harus menjadi garda moral dan suara kenabian dalam menghadapi krisis ekologi yang melanda dunia, terutama di Tanah Batak yang dikenal sebagai daerah berkat.
Dukungan terhadap pernyataan HKBP ini mulai bermunculan. Salah satunya datang dari Jaringan Advokasi Masyarakat Sipil Sumatera Utara (JAMSU) yang menyatakan dukungan penuh terhadap langkah gereja dalam memperjuangkan keadilan ekologis dan keberpihakan pada masyarakat kecil.
“Sudah saatnya tokoh agama bersatu, menyatukan persepsi, dan bergandeng tangan demi kesejahteraan masyarakat luas. Gereja bukan hanya memberi pengajaran rohani, tetapi juga menjaga ciptaan Tuhan,” lanjut Ephorus menegaskan.
Sementara itu, pihak PT Toba Pulp Lestari (TPL) menyayangkan pernyataan tersebut. Melalui keterangan tertulisnya, perusahaan menegaskan bahwa sekitar 50.000 jiwa menggantungkan hidup dari keberadaan TPL, baik sebagai karyawan, kontraktor, maupun mitra usaha di sekitar wilayah operasi.
Namun demikian, seruan tegas dari pimpinan tertinggi HKBP ini menjadi sinyal moral yang menggema luas, menandai bahwa persoalan lingkungan kini bukan lagi urusan teknis atau administratif pemerintah semata, melainkan panggilan iman dan nurani bersama demi masa depan Tanah Batak dan Danau Toba yang lestari.













