Humbahas – TB. Polmas Poldasu
Sosok Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Benyamin Nababan, dikenal luas sebagai pejabat yang ramah, terbuka, dan komunikatif. Semasa menjabat di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), ia meninggalkan kesan positif di kalangan wartawan, ASN, hingga tokoh masyarakat, Jumat, 26 September 2025.
Banyak jurnalis Taput mengaku kehilangan figur Benyamin setelah ia pindah tugas ke Humbahas. “Semenjak kepemimpinannya di Taput, beliau sangat ramah dan berteman, tidak pernah menyinggung, selalu mendekat apa yang dikatakan teman-temannya dan juga masyarakat. Sikap seperti ini yang membuat kami merasa kehilangan setelah beliau pindah,” ungkap J. Therling Sianturi, S.H, Koordinator Media Tabloid Polmas Poldasu.
Lebih jauh, J. Therling Sianturi juga mengisahkan pengalamannya semasa kuliah bersama Benyamin di Universitas Sisingamangaraja XII, Silangit, Tapanuli Utara. Menurutnya, pribadi Benyamin sudah sejak lama menunjukkan kepedulian dan ketulusan kepada orang-orang di sekitarnya.
“Saya satu kuliah bersama Benyamin Nababan. Semua teman satu kampus sangat menyukai kebaikannya dan kepeduliannya. Ia tidak pernah membuat sakit hati, selalu memberi semangat kepada kami untuk menjadi orang sukses ke depan,” kenang Therling.
Tak hanya dari kalangan pers, sejumlah tokoh masyarakat juga menaruh apresiasi terhadap gaya kepemimpinannya yang humanis. Mereka menilai Benyamin mampu menghadirkan suasana kerja birokrasi yang lebih terbuka, akrab, dan jauh dari kesan kaku.
Namun, belakangan muncul pemberitaan dari salah satu media online (X) yang menyebut Benyamin Nababan “alergi terhadap wartawan”. Klaim tersebut akhirnya mendapat bantahan langsung dari Benyamin karena dinilai tidak sesuai fakta.
Menurutnya, isu itu berawal dari kunjungan sahabat lamanya, M. Situmorang, mantan Kepala BKPSDM Pemko Sibolga sekaligus mantan Wakil Wali Kota Sibolga, yang sedang pulang kampung ke Humbang. “Karena kami sedang berdiskusi di ruang kerja, saya tidak sempat menerima tamu pada saat itu. Masa orang Humbang dan sahabat lama pulang kampung dilarang bertamu? Itu kan tidak masuk akal,” jelas Benyamin.
Ia menduga, wartawan media online (X) merasa kecewa karena tidak bisa ditemui saat itu, lalu melahirkan pemberitaan yang menyebut dirinya “alergi wartawan”. “Ini soal waktu, bukan soal sikap terhadap profesi wartawan. Saya menghargai kerja-kerja jurnalistik. Wartawan adalah mitra, bukan lawan,” tegasnya.
Lebih jauh, Benyamin menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin alergi kepada wartawan, sebab ia sendiri memiliki pengalaman menulis artikel di berbagai media lokal maupun nasional. “Saya dulu juga menulis artikel, jadi saya sangat memahami peran penting wartawan dan dunia jurnalistik,” ungkapnya.
Benyamin menilai istilah “alergi wartawan” terlalu berlebihan dan menyesatkan. Secara etika jurnalistik, pemberitaan seharusnya berimbang serta menyertakan hak jawab sebelum mempublikasikan klaim negatif.
Klarifikasi ini penting agar publik tidak terjebak pada narasi yang menyesatkan. Benyamin berharap, isu tersebut dilihat sebagai kesalahpahaman sesaat, bukan gambaran sikap resmi maupun kebijakan instansi yang ia pimpin.
Sebagai figur publik, Benyamin memang dikenal luas sebagai pejabat yang selalu tersenyum, bersahabat, dan mudah bergaul. Dari masa kuliah hingga kini menjadi pejabat, sikap ramahnya tidak pernah berubah. Ia tetap menempatkan wartawan dan masyarakat sebagai mitra yang harus dihargai, bukan dijauhi.
“Saya tetap terbuka bagi wartawan, karena bagaimanapun komunikasi dengan media sangat penting bagi pelayanan publik,” tutupnya dengan senyum khas yang menjadi ciri kepemimpinannya.













