Madina Polmas Poldasu
Cafe remang-remang dikenal dengan sebutan Cafe Jengkol berada di wilayah Desa Simpang Durian, Dusun Pulo Padang, tepatnya di seputaran lokasi bekas PT. Madina Madani Mining (M3) Kecamatan Lingga Bayu semakin meresahkan.
Pasalnya, pergaulan bebas serta rawannya peredaran Narkotika diyakini menjadi pemicu peluang besar untuk kegiatan prostitusi dilokasi tersebut, ditambah dengan pekerja wanita yang siap melayani setiap pelanggan cafe, menurut informasi diterima redaksi lebih kurang 20 wanita terdiri dari Janda, remaja, bahkan ada yang masih dibawah umur berasal dari Sumatera Barat dan Medan dipekerjakan oleh pemilik cafe untuk melayani setiap pria hidung belang sampai dini hari.
Meski cafe tersebut sempat ditutup oleh Satpol PP beberapa bulan sebelumnya, namun terpantau sejak beberapa hari kemaren sudah mulai aktif dan beroperasi kembali seperti biasa dengan menyediakan Miras, pelayanan plus wanita, bahkan diduga perputaran barang haram narkoba pun marak dan beredar tinggi dilokasi tersebut.
Pembiaran tanpa adanya tindakan tegas terhadap kebebasan aktivitas yang mengarah kepada setiap perbuatan maksiat atau prostitusi dikhawatirkan akan membawa karma yang maha dahsyat bagi setiap manusia yang melihat dan mengetahuinya namun diam tanpa melakukan tindakan untuk menghentikannya.
Selain itu, keberadaan Cafe remang-remang layaknya sebuah Club malam dengan suara musik yang cukup keras sampai dini hari tersebut telah mengundang kebisingan dan menimbulkan rasa ketidaknyamanan bagi penduduk sekitar, sehingga hal ini dipandang perlu adanya campur tangan pemerintah dan kepolisian untuk memastikan aktivitas cafe jengkol yang telah memicu kekhawatiran dan keresahan ditengah-tengah masyarakat dapat segera ditindaklanjuti, karena juga akan mencoreng dan merusak citra dan nama baik Kabupaten Mandailing Natal yang selama ini dikenal sebagai Kota Santri dan serambi mekkahnya Sumatera Utara.
Kapolsek Lingga Bayu AKP. Parsaulian Ritonga saat dikonfir via WhatsApp (22/9/2025) terkait hal ini mengatakan,” Forkopincam lagi jalan ke lokasi,kanit sedang di lokasi,”jawabnya singkat.
Mulyadi Jambak selaku ketua DPC LSM WGAB (Wadah Generasi Anak Bangsa) kabupaten Mandailing Natal kepada Polmas Poldasu mengatakan,” Keberadaan cafe seperti ini mustahil tanpa ada maksiat didalamnya.
Pekerja wanita berjumlah puluhan orang, bahkan info yang kami terima ada yang masih dibawah umur sudah menjadi pelayan bagi setiap pria yang datang ke Cafe tersebut.
Selain itu, jika tempat seperti itu sudah leluasa bergerak, otomatis pasti berbau miras dan narkoba, itu tidak bisa dihindarkan lagi mengingat Madina belakangan ini marak akan peredaran Narkoba disetiap penjuru.
Tindakan tegas dari pemerintah, baik ia Kabupaten, Kecamatan maupun desa beserta kepolisian dan Satpol PP sudah sangat dibutuhkan disini, karena aktivitas ini akan berdampak buruk bagi citra Kabupaten Mandailing Natal ya g dikenal sebagai penghasil santri terbesar dan dijuluki sebagai Serambi Mekkahnya Sumatera Utara.
Kesadaran dari masyarakat sekitarpun sangat dibutuhkan dalam hal ini, sehingga aktivitas seperti ini tidak dapat secara leluasa bergerak bebas,”papar Mulyadi.







