Kerusakan Alam Akibat PETI,Siapa Yang Bertanggung Jawab 

Madina Polmas Poldasu Online

Betapa miris melihat kondisi kerusakan alam akibat kegiatan PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin ) di Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara yang masih beraktifitas hingga saat ini 21 April 2024.

Tidak adanya tindakan tegas dari Aparat Pemerintah terhadap oknum oknum tauke tambang menyebabkan aktifitas ilegal ini masih berlanjut hingga saat ini.Para oknum tauke tambang melalui sang operator alat berat jenis exavator berbuat semaunya memporak porandakan alam ciptaan tuhan tanpa memikirkan akibat jangka panjang yang di timbulkan.Sangat mustahil Aparat Pemerintah tidak mengetahui aktifitas ini namun seolah ada bisikan ghaib yang melarang untuk membuat suatu tindakan,ironis sekali.

Slogan Kotanopan kota Pejuang dan kota Pendidikan rasanya tidak layak disandang bila perjuangan masyarakatnya terhadap ilegal mining yang mengakibatkan kerusakan lingkungan tidak ada.

Allah telah memberikan peringatan didalam Al Qur’an dengan begitu banyak ayat ayat suci Nya.Allah SWT berfirman : “Janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi setelah diatur dengan baik….sampai ahir ayat.(QS Al A’raf : 56).Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan,melalui ayat tersebut,Allah SWT melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi dan hal hal yang membahayakan kelestariannya sesudah diperbaiki.Menurut penafsiran Imam Ibnu Katsir,perbuatan yang merusak bumi akan membahayakan semua hamba Allah SWT.Hal inilah yang membuat Allah SWT melarang perbuatan tersebut.

Sementara itu menurut Tafsir Tahlili Kemenag RI,larangan berbuat kerusakan ini mencakup semua bidang,seperti merusak pergaulan,jasmani dan rohani orang lain,kehidupan dan sumber sumber penghidupan (pertanian,perdagangan,dll) termasuk merusak lingkungan.Dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang artinya : “Apabila dikatakan kepada mereka,”Janganlah berbuat kerusakan di bumi,”Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami adalah orang orang yang melakukan perbaikan.”(QS Al Baqarah : 11).

Di ayat lain,Allah SWT berfirman,yang artinya :

“Ingatlah,sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan,tetapi mereka tidak menyadari.”(QS Al Baqarah :12).Begitu banyak ayat ayat di dalam Al Qur’an yang dapat kita pedomani terkait peringatan akan kerusakan lingkungan.Surah Al Baqarah ayat 30 dan 60,Surah Al A’raf ayat 74,Surah Al Qasas ayat 77,dll.

Apabila manusia telah dirasuki ketamakan,maka mata hatinya akan buta terhadap kebenaran.Sungguh di sayangkan,saat pemberitaan terkait kegiatan PETI ini ditayangkan redaksi Polmas Poldasu,salah satu tauke PETI inisial P mengatakan kepada awak media ini melalui chat WhasApp “tanoku do na ugarab” artinya tanahku nya yang ku kelola.

Pemerintah terkait sudah saatnya memberikan edukasi kepada pemilik lahan agar lebih mengutamakan kelestarian lingkungan.Ketegasan Aparat Hukum juga  lebih dituntut untuk menindak oknum oknum tauke tambang.Untuk menghindari pola pola pemikiran seperti di atas.Artinya,pola pemikiran yang egois,walaupun ia pemilik lahannya namun tidak serta merta bisa berbuat sesukanya karena ada aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.Pemerintah sudah terlalu lama di nina bobok,atau pura pura bobok,yang pasti sudah bertahun tahun sejak PETI di DAS Batang Natal hingga Kotanopan,pemerintah lamban dalam hal penindakan.

Salah satu dampak kerusakan lingkungan di kotanopan akibat PETI ini adalah seperti yang dituturkan A.Malik salah satu warga kotanopan,”Diperkirakan lahan sawah yang telah rusak akibat PETI ini sudah sekitar 80 sukat benih Padi.Satu sukat itu seukuran dengan 5 liter.Biasanya satu sukat benih Padi dapat menghasilan panen sekitar 40 kaleng Padi.Kalau 80 dikali 40 sama dengan 3200 kaleng.satu kaleng padi beratnya sekitar 10 Kg.Jika ditotal maka sebanyak 32 ton padi per panen telah hilang dari kotanopan akibat rusaknya lahan persawahan warga,”ujar A.Malik.

Belum tentu waktu ratusan tahun dapat mengembalikan kondisi lahan tersebut supaya kembali normal.Jangan kiranya disaat kita sudah jadi tulang belulang,anak cucu kita nanti memberikan sumpah serapahnya akibat kelalaian kita saat ini.Siapa yang bertanggung jawab,miris sekali.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *