PERDANA DI TAHUN 2024, PT. INALUM EKSPOR ALUMINIUM INGOT SERI G-1 SEBANYAK 7000 METRIC TON KE CHINA 

Kuala Tanjung, (Polmas)

PT. Indonesia Asahan Aluminium atau PT. INALUM melakukan ekspor Aluminium Ingot Seri G-1 sebanyak 7.000 MT ke China sekaligus sebagai momen ekspor pertama korporasi pada 2024. Ekspor yang dilakukan di Pelabuhan PT. INALUM di Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara merupakan bukti produk PT. INALUM yang semakin kompetitif di pasar global.

 

Corporate Secretary PT. INALUM Mahyaruddin Ende menyampaikan bahwa momen ekspor 7000MT ini merupakan hasil dari usaha perusahaan dalam menciptakan produk aluminium berkualitas berstandar global, sekaligus sebagai langkah perusahaan dalam melakukan ekspansi pasar tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di pasar global.

 

”Momen ekspor ini merupakan langkah perusahaan dalam hal ekspansi pasar aluminium khususnya pasar global. Hal tersebut merupakan salah satu manifestasi dari tiga mandat yang diberikan pemerintah kepada keluarga besar BUMN Holding MIND ID yaitu terkait kepemimpinan pasar yang terwujud melalui optimalisasi komoditas mineral dan ekspansi bisnis, juga pembuktian korporasi atas kesanggupan yang mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dan juga pasar internasional.” ujar Mahyaruddin.

 

Lebih lanjut dikatakannya, sebanyak 7000 MT Aluminium Ingot Seri G1 merupakan produk yang menjadi komoditas ekspor perdana pada 2024 ini. Proses pemuatan dan pengiriman produk sambung Mahyaruddin dilakukan di Pelabuhan PT. INALUM di Kuala Tanjung pada 28 dan 29 Maret 2024.

 

“Aluminium Ingot merupakan produk PT. INALUM dengan kualitas premium. Ada beberapa jenis komoditas yang diproduksi oleh PT. INALUM namun yang paling banyak diminati 99,90%. adalah Aluminium Ingot yang memiliki berat 22,7 kg per batang dengan dua tingkat kemurnian aluminium; 99,90% dan 99,70%. Kualitas Aluminium Ingot PT. INALUM mengacu pada JIS h2102 (Virgin Aluminium Ingot) dan JIS H1305 (Metode Analisis Spektrokimia Emisi Optik untuk Aluminium dan Paduan Aluminium). PT. INALUM memproduksi 4 jenis aluminium Ingot berdasarkan level kemurnian, yaitu: S1-A (99,92%), S1-B (99,90%), S2 (99,85%), dan G1 (99,70%). Aluminium Ingot pada umumnya memerlukan proses remelting agar dapat dibentuk menjadi berbagai produk akhir, seperti komponen otomotif, kontruksi bangunan, dan lain-lain”, sebutnya.

 

Masih menurut Mahyaruddin berdasarkan hasil riset Wood Mackenzie pada September 2023 lalu, dalam jangka menengah diproyeksikan market balance aluminium di Indonesia akan mengalami surplus. Namun, ungkapnya, untuk pasar aluminium di Asia masih mengalami defisit sehingga hal ini menjadi peluang bagi Industri aluminium dalam negeri untuk dapat memperluas pangsa pasar di Kawasan Asia sekaligus menjadi potensi korporasi dalam melakukan ekspansi bisnis yang lebih besar.

 

PT Indonesia Asahan Aluminium atau PT. INALUM terang Mahyaruddin saat ini merupakan satu-satunya korporasi nasional yang bergerak dalam peleburan dan pengolahan aluminium. Dikemukakannya, Pasca transformasi MIND ID – INALUM pada Maret 2023, PT. INALUM selalu berkomitmen untuk menjadi salah satu motor utama dalam mewujudkan visi “Menjadi Perusahaan Global Terkemuka Berbasis Aluminium Terpadu Ramah Lingkungan”. “PT. INALUM berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas produk-produk aluminiumnya dan fokus pada pengembangan ekosistem hilirisasi aluminium nasional, baik dalam hal peningkatan kapasitas produksi, pengembangan lingkup rantai pasok aluminium, maupun pengembangan energi hijau”, tegas Mahyaruddin.

 

Sebelum mengakhiri penjelasannya, Mahyaruddin Ende juga menerangkan bahwa PT. INALUM saat ini tengah fokus pada penyelesaian beberapa proyek-proyek strategis khususnya untuk meningkatkan kapasitas produksinya secara bertahap dan diharapkan bisa mencapai angka produksi hingga 500 ribu ton dalam 5 tahun kedepan.

 

“Beberapa aksi korporasi dilakukan oleh PT. INALUM dalam rangka peningkatan kapasitas produksi sebagai respon atas tingginya potensi pasar aluminium nasional yang saat ini memiliki permintaan hingga 1 juta ton. Proyek-proyek tersebut antara lain: Pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Proyek Upgrading Teknologi Tungku Reduksi pada tahun 2023, Optimalisasi Smelter Kuala Tanjung yang ditargetkan akan meningkatkan kapasitas produksi di tahun 2024-2025 dan Proyek Diversifikasi Aluminium Remelt IAA”, tutup Mahyaruddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *