Humbahas – Poldasu
Keluarga Besar SDN 173353 simangulappe kecamatan bakti raja kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut berduka akibat bencana alam longsor yang menimpa Jumat lalu. Sekolah rusak Parah Dan 3 Orang Siswa Masih Dalam Pencarian.
Pada media TB Polmas Poldasu,Kepala sekolah Rohani R Gultom mengatakan “Semua Fasilitas sekolah hancur Dan untuk menjaga trauma psikis belum di perbolehkan ke lokasi kejadian bencana longsor dan sekolah diliburkan untuk pemulihan psikologis siswa dan masih di ditampung di posko pengungsian” ujar kepala sekolah, saat di wawancarai media di depan kantor dinas pendidikan kabupaten Humbahas Senin(5/12/2023).
Kepala sekolah di dampingi suami Juandi Sihombing mengatakan 3 siswa korban yang bernama Juni silaban kelas 5, Albino Riski silaban kelas 1, Tristan matew Siregar Kelas 1, hingga sekarang belum diketemukan.
Sekolah Penggerak SD173353 di Desa Simangulape terancam putus melaksanakan proses belajar mengajar kepada siswa, diakibatkan bencana longsor,bebatuan besar yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan menelan korban, bangunan sekolah,rumah penduduk hancur porak poranda .
Lagi, jelaskan Rohani gedung sekolah mereka hancur ditimpa batu besar. Jumlah gedung yang mereka miliki sebanyak 7 ruangan yakni 6 unit gedung rombel, 1 unit ruang kantor hancur tertimbun bebatuan sehingga tak satupun asset pembelajaran sekolah terselamatkan , untuk total kerugian diperkirakan mencapai 1 milyar rupiah lebih.
Ditambahkan Rohani, Untuk memulihkan mental siswa Rohani Gultom hanya mampu mengarahkan siswanya diajak untuk bernyanyi dan bermain di Posko pengungsian yakni di kantor Camat Baktiraja meskipun lokasi tersebut sangat kecil , dan ada juga bantuan dari kabupaten Samosir pembelajaran di atas Kapal “Alusi Tao Toba” untuk melaksanakan kegiatan baca bagi anak-anak .
Rohani juga berharap agar Dinas Pendidikan Daerah , Propinsi maupun Pusat , segera menangani karena, kasihan anak anak mereka tidak bisa belajar, saat ini adalah ujian ,mereka berada di posko, mereka hanya sekedar belajar Karena mereka masih dalam mengalami trauma.
“Jadi untuk menghilangkan rasa traumanya pihak sekolah dan para guru hanya mampu membuat kegiatan bermain dan bernyanyi, dan untuk
harapan selanjutnya supaya segera sekolah mereka dapat di bangun/direelokasi tempat belajarnya.” Ucap kepala sekolah.(*/theo)







