Polmaspoldasu.id-
Oleh : Chosni Choir Lubis ,S.Pd, Ketua Tanfidziyah MWCNU Pagar Merbau kab Deli Serdang Sumatera Utara 2026-2031, dan pendidik di UPT SPF SDN 107423 Tanjung Garbus.
Pembangunan daerah kerap terjebak pada angka-angka fisik: kilometer jalan yang ditambal, gedung pelayanan umum yang megah, atau indikator pertumbuhan ekonomi regional. Namun, indikator-indikator teknokratis ini sering kali luput menyentuh dimensi mendasar dari kesejahteraan itu sendiri, yakni kualitas manusia dan kesehatan mental publik. Di tengah arus modernisasi yang membawa degradasi moral serta tekanan sosial tinggi, kehadiran Gerakan Deli Serdang Mengaji (GDSM) menawarkan pendekatan rekayasa sosial (social engineering) yang bertumpu pada kekuatan spiritual.
Secara medis dan sosiologis, kesehatan publik tak lagi didefinisikan sekadar sebagai ketiadaan penyakit fisik. Holistic health mencakup ketenangan jiwa, kekuatan mental, serta stabilitas lingkungan sosial. Dalam ranah inilah Gerakan Deli Serdang Mengaji memainkan peran krusial.
Tradisi membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an secara teratur di tingkat keluarga hingga majelis taklim terbukti efektif meredam kecemasan sosial, mencegah kenakalan remaja, dan memperkuat ketahanan keluarga.
Namun, sebuah gerakan keagamaan berskala masif tidak akan berjalan optimal tanpa modal sosial yang kuat. Di sinilah peran Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas keumatan menemukan signifikansinya. Lewat khidmah diniyyah wa ijtimaiyyah (pengabdian keagamaan dan kemasyarakatan), NU bukan sekadar menjadi pendukung pasif, melainkan mesin penggerak utama. Dengan struktur organisasi yang mengakar hingga tingkat ranting , NU menyediakan infrastruktur sosial—melalui pesantren, badan otonom, dan para dai—yang memastikan nilai-nilai GDSM terinternalisasi secara nyata.
Sinergi antara kebijakan publik berbasis spiritualitas dan pergerakan akar rumput seperti NU menawarkan model pembangunan daerah yang seimbang. Pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penataan karakter warga. Tanpa fondasi moral yang kokoh, kemajuan daerah rentan terkikis oleh patologi sosial.
Kita mengapresiasi keberlanjutan Gerakan Deli Serdang Mengaji. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi agar gerakan ini tidak berhenti sebagai simbol ritual belaka. Pemerintah daerah Kabupaten Deli Serdang dibawah kepemimpinan Bapak Bupati dr. H. Asri Ludin Tambunan, M.Ked(PD), Sp.PD bersama NU dan seluruh elemen masyarakat harus memastikan instrumen ini terus hidup sebagai jawaban atas krisis moral, serta menjadi fondasi utama mewujudkan Deli Serdang Sehat yang Sehat Pelayanan Publiknya , Sehat Masyarakatnya , Sehat Ekonominya dan Sehat Lingkungannya.







